UMKM Desa Go Online: Cara Membuka Lapak Produk di Website Desa
Produk warga layak ditemukan pembeli dari luar desa. Panduan ini membahas cara desa membuka lapak UMKM di website resmi, mulai dari foto produk, deskripsi, hingga pemesanan lewat WhatsApp.
· 4 menit baca

Daftar isi
Keripik tempe, kopi robusta, batik tulis, anyaman bambu. Hampir setiap desa punya produk yang dibuat dengan tekun oleh warganya. Sayangnya, banyak produk itu hanya dikenal di pasar kecamatan. UMKM desa bisa menjangkau pembeli yang jauh lebih luas bila produknya tampil rapi di internet, dan website desa adalah tempat yang paling dipercaya untuk memulainya.
Panduan ini membahas mengapa lapak produk di website desa penting, cara menyiapkan foto dan deskripsi, serta cara menerima pesanan tanpa ribet.
Mengapa UMKM desa perlu tampil di website desa
Pelaku usaha di desa biasanya berjualan lewat status WhatsApp atau grup media sosial. Cara ini bagus untuk pembeli yang sudah kenal. Namun, calon pembeli dari luar desa sulit menemukannya.
Website desa punya tiga kelebihan yang tidak dimiliki akun pribadi:
Lebih dipercaya. Produk yang tampil di situs resmi pemerintah desa terasa lebih meyakinkan bagi pembeli baru.
Mudah ditemukan di Google. Setiap produk punya halaman sendiri yang bisa muncul di hasil pencarian.
Satu etalase untuk semua. Pengunjung bisa melihat seluruh produk unggulan desa di satu tempat.
Bagi pemerintah desa, lapak online juga menjadi cara nyata mendukung ekonomi warga tanpa harus mengelola uang atau stok barang.
Siapkan data pelaku usaha terlebih dahulu
Sebelum memajang produk, catat dulu pelaku usahanya. Data dasarnya cukup sederhana: nama usaha, pemilik, jenis usaha, alamat, dan nomor WhatsApp untuk pemesanan.
Dengan data ini, setiap produk tertaut ke pembuatnya. Pembeli tahu siapa produsennya, dan nomor WhatsApp penjual terisi otomatis di setiap produk. Bila nomornya berganti, cukup ubah di satu tempat.
Pastikan pelaku usaha setuju nomornya ditampilkan. Mintalah izin secara langsung, dan jelaskan bahwa pembeli akan menghubungi nomor itu.
Memotret produk dengan ponsel
Foto adalah alasan utama orang mengeklik sebuah produk. Kabar baiknya, foto yang bagus tidak butuh kamera mahal. Ponsel sudah cukup bila mengikuti beberapa kebiasaan ini:
Gunakan cahaya alami. Potret di dekat jendela atau di teras pada pagi hari. Hindari lampu kuning.
Pakai latar polos. Selembar kain putih, papan kayu, atau tikar pandan membuat produk lebih menonjol.
Ambil beberapa sudut. Tampak depan, kemasan, detail bahan, dan produk saat dipakai.
Bersihkan lensa. Langkah kecil ini sering terlupa, padahal hasilnya sangat berbeda.

Di Simping, setiap produk bisa memuat hingga lima foto. Foto pertama menjadi sampul di daftar lapak, jadi pilih foto yang paling menarik.
Menulis deskripsi produk yang menjual
Deskripsi yang baik menjawab pertanyaan pembeli sebelum mereka bertanya. Tulis dengan kalimat pendek dan jujur. Sebutkan hal-hal berikut:
Bahan dan cara pembuatan. Misalnya "kopi robusta dari kebun warga, disangrai manual".
Ukuran, berat, atau isi kemasan. Pembeli ingin tahu apa yang mereka dapatkan.
Harga yang jelas. Cantumkan harga per satuan dan apakah ada harga grosir.
Ketahanan produk. Penting untuk makanan olahan.
Cara pemesanan dan pengiriman. Misalnya bisa dikirim ke luar kota lewat jasa ekspedisi.
Hindari klaim berlebihan yang tidak bisa dibuktikan. Pembeli yang kecewa jarang kembali.
Menerima pesanan lewat WhatsApp
Banyak desa ragu membuka lapak karena membayangkan sistem pembayaran yang rumit. Lapak UMKM di Simping memakai cara yang sudah akrab bagi warga: tombol pesan WhatsApp.
Pembeli menekan tombol, lalu percakapan dengan penjual terbuka beserta nama produknya. Pembayaran dan pengiriman disepakati langsung antara pembeli dan penjual. Desa tidak memegang uang, dan Simping tidak memotong biaya apa pun.
Fitur selengkapnya bisa dilihat di halaman Lapak UMKM & BUMDes.
Tempat BUMDes dalam lapak UMKM desa
Badan Usaha Milik Desa diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2021 tentang Badan Usaha Milik Desa, yang teksnya bisa dibaca di JDIH BPK. BUMDes bisa menjadi pengumpul produk warga, pengemas, atau pemasar bersama.
Website desa dapat menampilkan profil BUMDes, unit usahanya, dan produk yang dijualnya. Dengan begitu, warga dan pembeli melihat peran BUMDes secara terbuka, sementara produk perorangan tetap tampil atas nama pembuatnya.
Mempromosikan lapak setelah tayang
Lapak yang sudah tayang perlu diperkenalkan. Bagikan tautannya di grup WhatsApp warga, akun media sosial desa, dan ajang pameran. Minta pelaku usaha mencantumkan tautan produknya di status mereka.
Tampilkan juga produk pilihan di beranda website desa. Semua tema website desa di Simping menyediakan blok Lapak UMKM yang bisa dipasang di beranda.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah ada biaya untuk memajang produk? Tidak ada biaya transaksi. Pembeli dan penjual bertransaksi langsung lewat WhatsApp, sehingga seluruh hasil penjualan diterima penjual.
Siapa yang sebaiknya mengelola lapak? Tunjuk satu perangkat desa atau pengurus BUMDes sebagai pengelola. Tugasnya memeriksa data produk, memperbarui harga, dan menurunkan produk yang sudah tidak dijual.
Bagaimana bila pelaku usaha tidak punya ponsel pintar? Pengelola lapak bisa membantu memotret dan menuliskan produknya. Nomor pemesanan dapat memakai nomor anggota keluarga yang disetujui pemilik usaha.
Berapa banyak produk yang ideal di awal? Mulailah dari tiga sampai lima produk dengan foto dan deskripsi terbaik. Lapak yang sedikit tetapi rapi lebih dipercaya daripada lapak yang ramai tetapi asal-asalan.
Penutup
Produk desa yang baik layak dikenal lebih luas. Dengan data pelaku usaha yang rapi, foto yang jelas, dan deskripsi yang jujur, UMKM desa bisa menjangkau pembeli dari kota lain tanpa biaya iklan. Mulailah dengan tiga produk unggulan, lalu tambahkan sedikit demi sedikit.
Bila desa Anda belum punya website, baca panduan cara membuat website desa resmi untuk memulainya.
Ditulis oleh


